get app
inews
Aa Text
Read Next : Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah hingga Akhir Januari 2026, BMKG ingatkat Masyarkat

Riset ITB Ungkap Banjir Sumatra Dipicu Hujan Ekstrem Siklon Senyar

Minggu, 22 Februari 2026 | 00:26 WIB
header img
Koordinator Tim Riset CENAGO Heri Andreas menjelaskan, riset CENAGO ITB mengungkap banjir Sumatra 2025 dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Senyar. (Foto: Ist)

"Model probabilitas kami menunjukkan ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, CENAGO menilai bencana berada pada level yang secara perencanaan memang melampaui kapasitas sistem pengendalian banjir nasional.

Hasil analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan porsi alih fungsi lahan oleh tiga korporasi relatif kecil terhadap luas DAS. Rinciannya, PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS sekitar 0,4 persen dan PT NSHE sekitar 0,02 persen. CENAGO menyebut kontribusi tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dampak cuaca ekstrem.

Dalam simulasi berbagai skenario, termasuk kondisi seluruh DAS berupa hutan, kontribusi korporasi terhadap banjir tetap rendah.

Hasilnya menunjukkan, PT AR berkontribusi 0,32 persen terhadap banjir dan menambah runoff 0,71 persen, PT NSHE sekitar 0,05 persen dan runoff 0,01 persen serta PT TBS berkontribusi 1,7 persen dengan runoff sekitar 0,06 persen. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa faktor meteorologis ekstrem menjadi pemicu utama.

Kajian ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan yang digelar 18 Februari 2026 di Jakarta.

Perwakilan BMKG dalam forum tersebut juga menegaskan bahwa fenomena Siklon Tropis Senyar merupakan kejadian sangat jarang yang memicu hujan ekstrem di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh.

Kombinasi hujan ekstrem dan longsor kemudian memicu banjir bandang, termasuk di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Akademisi ITB dari Kelompok Keahlian Geologi, Dr Ahmad Imam Sadisun, menambahkan longsor banyak terjadi pada zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam di hulu DAS Garoga.

Dari sisi geomorfologi, area tambang PT AR yang lokasinya jauh dan berada di sub-DAS berbeda dipastikan tidak berkontribusi terhadap banjir di Desa Garoga.

Secara prinsip aliran, air tidak mungkin mengalir dari elevasi lebih rendah menuju wilayah yang lebih tinggi. Sementara PT TBS disebut berada di luar DAS Garoga.

CENAGO menegaskan penggunaan data geospasial berketelitian tinggi sangat penting dalam pengambilan keputusan kebencanaan.

Pendekatan berbasis sains dinilai krusial agar setiap kesimpulan penyebab bencana tersusun objektif, terukur, dan proporsional.

“Masih ada pekerjaan rumah sangat besar, yaitu penggunaan data dan informasi, seperti data geoscience, bagi penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah,” ujarnya.

Editor : Iman Nurhayanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut