get app
inews
Aa Read Next : Pemkot Semarang Lakukan Beberapa Langkah Respon Prediksi Rob Tinggi di Pantura

BMKG Ingatkan Anomali Iklim dan Potensi Bancana, Salah Satunya Kemarau Datang Terlambat

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:27 WIB
header img
Sebagian wilayah Indonesia telat mengalami musim kemarau karena anomali iklim. Foto: Ist

JAKARTA, iNewsJatenginfo.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menghimbau masyarakat untuk waspada karena musim kemarau akan datang terlambat di sebagian wilayah Indonesia. 

Hal tersebut tentu berdampak pada wilayah yang mengalami keterlambatan tersebut, yaitu akan diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi pada sekitar bulan September-Oktober 2022.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan terdapat anomali iklim atau penyimpangan iklim pada tahun ini, sehingga masyarakat harus waspada dengan segala potensi bencana yang terjadi. 

"Situasi saat ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang dikeluarkan Maret 2022 lalu. Saat itu, BMKG menyampaikan bahwa sebagian wilayah Indonesia akan mengalami keterlambatan datangnya awal musim kemarau, musim kemarau akan terjadi dengan sifat hujan di atas normal (kemarau basah) pada sebagian wilayah Indonesia," ujar Dwikorita, Minggu (21/8/2022).

Berdasarkan pantauan BMKG awal Agustus 2022 menunjukkan sebanyak 257 zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, atau sebesar 75 persen dari total 342 ZOM. 

Daerah - daerah yang masih mengalami musim hujan Sumatera bagian utara dan tengah, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian kecil Jawa Barat, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi bagian selatan, tengah dan utara, Maluku, Maluku utara dan sebagian kecil Papua Barat. 

Merujuk pada normalnya, seharusnya pada awal bulan Agustus, 99 persen ZOM telah mengalami musim kemarau.

Dwikorita menambahkan, kombinasi berbagai faktor alam menjadikan sebagian wilayah Indonesia tetap dilanda hujan lebat bahkan mengalami cuaca ekstrem meski di waktu musim kemarau. 

"Faktor alam tersebut yaitu menghangatnya suhu muka laut (SML) Indonesia, masih aktifnya fenomena La Nina dan terjadinya fenomena iklim IOD negatif (Indian Ocean Dipole)," pungkas Dwikorita.

Editor : Iman Nurhayanto

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut