CILACAP UTARA, iNewsJatengInfo.id - LAZNAS Baitulmaal Muamalat (BMM) melalui Program Bangun Desa Unggul (BDU) di Kampung Zakat Kelurahan Gumilir menggelar Pelatihan Teknis Budidaya Hidroponik bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Gumi Lestari pada Sabtu (19/09). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BMM dalam memperkuat kapasitas anggota KWT sebagai penerima manfaat sekaligus mempersiapkan pengelolaan greenhouse yang akan dibangun oleh BMM di wilayah tersebut.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai budidaya hidroponik. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan pengantar program oleh Fasilitator BMM, Dimas Erlangga. Dalam pengantarnya, Dimas menjelaskan tujuan, tahapan, serta target pelatihan. Penguatan kapasitas sejak awal dinilai penting agar anggota KWT memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar sebelum greenhouse mulai dimanfaatkan secara operasional.
Dukungan terhadap pelaksanaan program turut disampaikan Pemerintah Kelurahan Gumilir dan Pengurus Kampung Zakat. Sekretaris Kelurahan Gumilir mendorong peserta untuk mengikuti proses pembelajaran secara sungguh-sungguh. Pelatihan ini diharapkan menjadi salah satu langkah awal dalam memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mendorong KWT Gumi Lestari menjadi kelompok yang aktif dalam memanfaatkan teknologi budidaya.
Sementara itu, Pengurus Kampung Zakat Kelurahan Gumilir menilai pelatihan teknis menjadi tahap penting untuk memastikan kesiapan sumber daya manusia. Dengan demikian, ketika fasilitas greenhouse KWT Gumi Lestari yang dibangun melalui dukungan BMM selesai dan siap digunakan, anggota kelompok telah memiliki bekal pengetahuan untuk mengoperasikan dan mengelolanya secara mandiri.
Sesi utama pelatihan menghadirkan Mubarokah sebagai narasumber dengan materi mengenai tahapan budidaya hidroponik. Mulai dari penyemaian, pemeliharaan tanaman, hingga pemasaran dan perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Peserta juga didorong untuk membangun kebiasaan praktik sejak dini dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang tersedia di lingkungan rumah.
Dalam sesi diskusi, peserta aktif menggali informasi mengenai siklus pertumbuhan tanaman selada hidroponik, mulai dari penyemaian hingga masa panen. Narasumber menjelaskan bahwa setiap fase membutuhkan waktu yang berbeda, dengan masa panen selada umumnya berada pada kisaran 35–45 hari setelah semai, bergantung pada kondisi budidaya. Konsistensi pemberian nutrisi dan pengelolaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan serta kualitas tanaman.
Setelah sesi materi dan diskusi, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi untuk melihat perkembangan pemahaman setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama serta penyampaian kesan dan pesan dari anggota KWT Gumi Lestari.
Peserta menyambut positif pelatihan yang diberikan. Indah, salah satu anggota KWT Gumi Lestari, menyampaikan bahwa materi yang diperoleh memberikan pengetahuan baru dan mendorongnya untuk segera melakukan praktik budidaya hidroponik di rumah. Daryati berharap keberadaan greenhouse yang dibangun melalui dukungan BMM dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat RW 07 dan turut mendukung pengembangan Kelurahan Gumilir. Sementara itu, Santi menilai pelatihan memberikan pengalaman baru dalam merawat tanaman hidroponik dan mendorong anggota kelompok untuk terus belajar serta menerapkan pengetahuan secara bersama-sama.
Setelah pelatihan teknis ini, rangkaian Program Bangun Desa Unggul akan memasuki tahap pembangunan greenhouse yang ditandai dengan pelaksanaan peletakan batu pertama. Momentum tersebut menjadi penanda dimulainya proses pembangunan fasilitas budidaya hidroponik KWT Gumi Lestari yang nantinya diharapkan dapat menjadi sarana produktif bagi kelompok dalam mengembangkan usaha, meningkatkan pemanfaatan lahan, serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Melalui rangkaian tersebut, BMM bersama Pengurus Kampung Zakat dan Pemerintah Kelurahan Gumilir terus memperkuat kapasitas KWT Gumi Lestari secara bertahap, mulai dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan, pembangunan sarana produksi, hingga pendampingan pemanfaatan greenhouse. Penguatan ini diharapkan menjadi fondasi bagi pemberdayaan perempuan, pemanfaatan lahan produktif, pemenuhan gizi keluarga, serta pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
